Melamar Seorang Wanita Untuk Dijadikan Isteri

Imam Ahmad rahimahullah berkata,

“Jika seseorang ingin melamar seorang wanita, hendaknya yang pertama kali ia tanyakan adalah kecantikannya. Jika wanita itu menurutnya cantik, lalu ia tanyakan tentang agamanya. Jika kecantikannya kurang, maka ia tentu menolak wanita tersebut bukan kerana agamanya, namun kerana kecantikannya.”

(Syarh Muntaha Al Irodaat, 2: 623).

Kisah al Imam Ibn Utsaimin dan Kereta Mewah

Kisah al Imam Ibn Utsaimin dan Kereta Mewah

Pernah pada suatu hari, Syeikh berdiri di depan masjidnya sambil berbincang dengan para murid akan masail. Tiba-tiba, datang sebuah kereta mewah. Pemandunya keluar dari kereta dan memberikan kunci kereta pada syeikh, seraya berkata, ” Kereta ini adalah hadiah dari fulan (orang kenamaan negeri). Syeikh lalu menolak pemberian itu. Pemandu tadi itu pun terus memaksa syeikh untuk mengambilnya, lalu syeikh pun mengambilnya. Lelaki itu pun terus menaiki kereta lain dan berlalu pergi.

Syeikh pun kembali menyambung pembicaraannya bersama para murid sementara kunci kereta itu ada di tangannya. Syeikh tidak sedikit pun mendekat pada kereta mewah tersebut. Tiba-tiba, datang pula seorang pemuda dan memberi salam kepada syeikh dan berkata, ” Wahai syeikh, malam ini akan diadakan majlis pernikahanku, dan aku meminta agar engkau dapat hadir”. Syeikh meminta uzur tidak dapat hadir kerana sibuk akan pelbagai urusan, namun pemuda tadi terus memaksa syeikh. Dia terus merayu-rayu pada syeikh, dan syeikh sekali lagi memohon maaf tidak dapat hadir.

Syeikh pun berkata pada pemuda tersebut, ” Ambillah kunci kereta ini sebagai hadiah dariku”. Pemuda itu pun mengambil kereta tersebut dan pergi. Dan syeikh kembali menyambung perbincangannya dengan para thullab seolah-olah tiada apa yang berlaku.

Nubzah an Hayat al Imam Ibn Utsaimin m/s 16

Taksub itu Tercela Bahkan Jalannya Orang Kafir

TA’ASUB ITU TERCELA, BAHKAN JALANNYA ORANG-ORANG KAFIR!

Oleh: Fadhilatusy Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah

Pertanyaan: Kami mohon anda menjelaskan tentang bahaya ta’asub (fanatik) terkhusus di hari-hari ini di mana sebahagian pelajar berta’asub kepada sebahagian tokoh individu, berloyalitas dan memusuhi kerananya. Kami memohon anda berkenan memberikan sepatah kata, mudah-mudahan Allah memberikan manfaat dengannya.

Jawaban: Ta’asub itu tercela, bahkan jalannya orang-orang kafir.

Ta’asub dan mengikuti hawa nafsu termasuk jalan orang-orang jahiliyyah dan jalan kaum Tartar sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Seorang mukmin itu hendaknya selalu berupaya mengenali kebenaran dan berpegang teguh dengannya walaupun kebenaran ini diselisihi oleh orang-orang yang telah menyelisihinya. Selamanya, jangan pernah berta’asub baik kepada kesalahan fulan atau fulan, pemikiran fulan dan fulan. Tetapi berpegang teguhlah dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah ‘alaihish solatu was salam, berloyalitas dan siap memusuhi di atas perkara yang telah dibawa oleh Muhammad sallallahu ‘alaihi was salam setelah mengetahui bahawa Muhammad datang dengan perkara tersebut dan bukan kerana sangkaan-sangkaan semata. Jadi ia tahu bahawa perkara ini telah di bawa oleh Muhammad ‘alaihish solatu was salam. Perkara tersebut telah ditunjukkan oleh Kitabullah dan sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi was salam serta diikuti oleh salafus soleh.

Ibnul Qayyim berpandangan bila engkau telah mengetahui sebuah nas dan memahaminya yaitu dalam kondisi engkau belum mengetahui ada seorangpun yang mengatakannya, maka wajib bagimu berpegang teguh dengan nas tersebut. Dan jika engkau tahu ada orang yang telah mengatakannya, maka akan menambah engkau semakin kuat dan yakin.

Namun bila engkau tidak mendapati seorang pun yang mengatakannya, maka itu bukanlah syarat. Yang terpenting, timbangan seorang muslim itu adalah firman Allah dan sabda Rasulullah.

“Ilmu itu ialah ucapan Allah, ucapan Rasul-Nya, dan ucapan para sahabat, bukan kepalsuan.”

Adapun orang jahil yang datang lalu memancangkan dirinya sebagai seorang imam, dan berbicara di dalam kebatilan dan kesesatan lantas engkau berta’asub dengannya, maka inilah diantara perbuatan jahiliyah. Bahkan meskipun seorang imam yang berbuat kesalahan, seandainya engkau tetap berta’asub kepadanya, sungguh pada dirimu terdapat sifat jahiliyah

“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, maka di atas jejak-jejak mereka kami berteladan.”

Ta’asub ini termasuk dari keadaan orang-orang jahiliyah dan perbuatan mereka. Adapun seorang muslim yang jujur, maka wajib membersihkan dirinya dari sikap ta’asub dan dari menyelisihi perkara-perkara yang dibawa oleh Muhammad sallallahu ‘alaihi was salam. Ta’asub itu tercela. Tidaklah berta’asub kecuali orang yang terganggu sarafnya atau seorang yang hina. Orang yang terganggu sarafnya yaitu orang gila, orang yang tertimpa penyakit saraf atau orang dungu. Tidaklah berta’asub kecuali orang dungu atau orang yang terganggu sarafnya.

Maka seorang muslim itu wajib membersihkan dirinya sehingga tidak menjadi orang dungu dan tidak pula menjadi orang gila, yang terganggu sarafnya. Jadilah orang yang berakal yang mencari kebenaran. Bila telah mengetahui kebenaran, maka peganglah kebenaran itu meskipun seluruh manusia di muka bumi menyelisihinya.

Jangan berta’asub, tidak kepada imam, makmum, orang yang jujur, apalagi kepada pendusta, tetapi berpegang teguhlah hanya dengan kebenaran.

Sumber:http://www.sahab.net/forums/index.php…

Alih bahasa : Syabab Forum Salafy

http://forumsalafy.net/taashub-itu-tercela-bahkan-jalannya…/

Menulis Hukum Tajwid pada Mushaf

BOLEHKAH MENULIS HUKUM TAJWID DIATAS AYAT PADA MUSHAF

Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz رحمه الله

Pertanyaan: Bolehkah penulisan hukum-hukam tajwid diletakkan di atas ayat-ayat al Qur’an di dalam mushaf?

Jawapan:

Tidak diperbolehkan menulis apapun. Mushaf al Qur’an tidak boleh dituliskan padanya apapun kecuali Kalamullah jalla wa’ala.

Tidak boleh menuliskan padanya footnote, tanda-tanda tajwid atau semisalnya. Dikeranakan al Qur’an harus dibersihkan dari semua perkara lain dan hanya diperuntukkan untuk Kalamullah Azza wajalla.

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/node/11280

* Alih bahasa : Syabab Forum Salafy

*******

كتابة بعض الأحكام التجويدية فوق الآيات في المصحف

السؤال: هل تجوز كتابة بعض الأحكام التجويدية فوق الآيات في المصحف؟

الجواب: لا يجوز أن يكتب شيء، المصحف لا يكتب فيه شيء، مجرد إلا من كلام الله- جل وعلا-، لا يكتب حواشي, ولا علامات تجويدية ولا غير ذلك؛ لأن المصحف يجب أن يجرده، ويكون خالصاً لكلام الله- عز وجل

http://forumsalafy.net/bolehkah-menulis-hukum-tajwid-diatas-ayat-pada-mushaf/

Anak Itu Rahsia Bapanya

ANAK ITU RAHSIA BAPANYA

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah melihat anaknya mengusap piring timbangan dengan hujung bajunya.

Lalu dia bertanya: “Mengapa?” Maka si anak menjawab: “Supaya saya tidak ikut menimbang debu jalanan untuk kaum muslimin”.

Maka menangislah Al-Fudhail, sambil berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya perbuatanmu ini bagiku lebih bagus dari dua haji dan dua puluh umrah!”

Renungkanlah faedah di atas, betapa besar faedah dari sifat kejujuran. Seseorang menjadi ‘kadzib’/pendusta, atau sebaliknya menjadi ‘sadiq’/jujur tergantung tarbiyyah kedua orang tuanya sejak kecil.

Diterjemahkan:
Ummu Abdillah binti Ali Bahmid عفا الله عنهما
WA.Tarbiyatul Aulaad
BILAAD

Meraih Penjagaan Allah

MERAIH PENJAGAAN ALLAH TA’ALA

Apabila engkau menjaga perintah-perintah Allah dan larangan-Nya dan engkau berhenti pada aturan-aturan-Nya nescaya Allah akan Menjagamu, dikeranakan balasan sesuai dengan jenis amalannya.

Engkau menjaga perintah-perintah dan larangan Allah serta aturan-aturanNya maka sebagai balasannya Allah akan menjagamu, menjaga dirimu, menjaga hartamu, menjaga agamamu dan ini yang terpenting, menjagamu dari menuruti syahwat, yaitu terjatuh pada perkara-perkara yang haram dan maksiat, dan juga memalingkan kejelekan yang akan menimpa dirimu.

Allah ta’ala berfirman tentang Yusuf alaihissalam (ketika diajak bermaksiat oleh isteri penguasa), “Sesungguhnya Yusuf temasuk dari hamba-hamba kami yang ikhlas.” (Q.S. Yusuf : 24). ”

Sumber: An-Nibraas karya Asy-Syaikh Al-‘Allamah Rabi’ bin hadi Al-Madkholiy hafidzahullah, Hal. 7

Alih Bahasa oleh Syabab Forum Salafy Banjarnegara ‘
Forum Salafy Banjarnegara

Orang yang Meyakini Budha adalah Nabi

APAKAH HUKUM ISLAM TERHADAP ORANG YANG MEYAKINI BAHAWA BUDHA ADALAH NABI?

Budha bukan nabi, namun dia adalah kafir filosof, beragama dengan selain agama samawi. Barangsiapa meyakini Budha sebagai nabi, maka dia kafir. Kaumnya telah bersikap ghuluw (ekstrim) terhadap Budha, mereka meyakini darjat ketuhanan bagi Budha, dan menyembah Budha. Banyak manusia memeluk agama Budha ini, baik dahulu mahupun sekarang. Maka wajib atas kaum muslimin untuk membenci agama ini, membenci para pemeluk agama ini, berlepas diri dari mereka, dan memusuhi mereka kerana Allah.

Dari Fatwa al-Lajnah ad-Da’imah li al-Buhuts al-‘Ilmiyyah wa al-Ifta’, no. 21004

Majmu’ah Manhajul Anbiya

WA Salafy Singapura 🇸🇬

Istilah-istilah Dalam Ilmu Hadis

ISTILAH  HADITS

Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Berikut ini beberapa istilah hadits yang sering dipakai :

  1. MUTAWATIR yaitu : Hadits yang diriwayatkan dari banyak jalan (sanad) yang lazimnya dengan jumlah dan sifatnya itu, para rawinya mustahil bersepakat untuk berdusta atau kebetulan bersama-sama berdusta. Perkara yang mereka bawa adalah perkara yang indrawi yakni dapat dilihat atau didengar.

Continue reading

Faedah Ilmiah dari Daurah – Tashfiyah wa Tarbiyah li Syaikh al-Albani (Bhg 5 Dari 5)

Faedah Ilmiah dari Daurah – Tashfiyah wa Tarbiyah li Syaikh al-Albani
Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf
Johor Bahru, Malaysia
Sabtu, 23 Syawwal 1436H / 8 Ogos 2015M

SESI KELIMA (TERAKHIR):

Antara contoh yang menunjukkan pentingnya Tashfiyah dan Tarbiyah ini adalah kisah yang berlaku di negeri Syam. Terdapat sekelompok pemuda yang ingin berbuat sesuatu untuk Islam dan bangkit dengan semangat Islam, serta mendakwahkannya kepada masyarakat. Continue reading